Energi Nuklir: Solusi Krisis Energi Bangsa


n11Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang membutuhkan pasokan energi yang besar. Saat ini, Indonesia yang berpenduduk sekitar 239 juta jiwa membutuhkan energi listrik sebesar 142.53 TWH dengan kapasitas pembangkit listrik nasional sekitar 34 giga watt. Dan pada tahun 2025 mendatang, diperkirakan kebutuhan listrik tersebut akan naik hingga 100 giga watt.

12

Fakta kebutuhan energi tersebut ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber energi yang dimiliki negeri kita. Sebagai gambaran, kandungan minyak bumi Indonesia diperkirakan hanya mencapai 18 tahun lagi, cadangan produksi gas diperkirakan sekitar 61 tahun, dan cadangan batubara sekitar 147 tahun lagi. Padahal, 54% penggunaan energi di Indonesia berasal dari minyak bumi, 26,5% dari gas bumi, dan 14% berasal dari batubara. Untuk itu, perlu adanya sumber energi alternatif untuk menggantikan energi yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil dan gas alam.

Kenapa Nuklir?

Penggunaan dan pemanfaatan energi alternatif selain dari bahan bakar fosil adalah suatu keharusan mengingat semakin terbatasnya sumber energi tersebut. Di antara sumber energi alternatif tersebut terdapat sumber-sumber energi terbarukan (renewable) seperti air, angin, cahaya matahari dan pasang surut air. Sayangnya, pemanfaatan sumber energi terbarukan masih amat terbatas dan dalam skala kecil. PLTA sudah kurang memungkinkan dibangun di pulau Jawa. Energi cahaya matahari (surya) terkendala dengan mahalnya panel surya (solar cell) dan kecilnya energi yang dihasilkan karena sifatnya yang tidak kontinu. Energi panas bumi (geothermal) sangat potensial akan tetapi tidak selalu berada di tempat yang dibutuhkan kendala geografis). Energi yang berasal dari angin juga sulit untuk diharapkan mengingat kecepatan dan arah angin di daerah khatulistiwa tidak selalu sama.

Energi nuklir adalah sebuah energi alternatif yang relatif besar potensinya untuk menggantikan energi fosil. Saat ini, tanpa memperhitungkan eksplorasi baru, cadangan uranium dunia akan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dunia hingga 100 tahun. Dan dengan teknologi pengolahan dan pembiakan (pada reaktor jenis tertentu), bahkan akan mencukupi hingga 3600 tahun mendatang.

Energi alternatif yang akan menggantikan posisi energi fosil haruslah juga efisien dan ramah lingkungan. Sebuah reaktor nuklir akan menghasilkan panas yang kemudian akan menghasilkan uap air bertekanan tinggi untuk memutar turbin pembangkit listrik. Energi termal yang dihasilkan oleh pembakaran 1Kg Uranium-235 murni besarnya adalah sekitar 17 milyar Kkal, atau setara dengan pembakaran 2,4 juta Kg batubara.

Terkait dengan efisiensi, biaya produksi listrik sebuah PLTN adalah sekitar 3,5 – 4,5 sen dollar AS per KWH. Jauh lebih murah dibanding harga listrik sekarang yang diperkirakan sebesar 7 sen dollar AS per KWH.

Isu Keamanan dan Keselamatan

Ketika bicara tentang nuklir, hal yang kemudian biasanya terbayang adalah perang, senjata, dan kecelakaan. Tentu saja hal tersebut adalah wajar mengingat dunia masih terbayang dengan kecelakaan reaktor Chernobyl di Uni Sovyet, kecelakaan reaktor Three Miles Island di AS, serta hancur leburnya kota Hiroshima dan Nagasaki karena bom atom di Jepang. Tetapi lantas benarkah pendapat yang menyatakan bahwa sama sekali tak ada kebaikan pada energi nuklir?

Islam telah memberikan pemahaman bahwa segala yang ada di bumi tidak lain adalah untuk kemaslahatan manusia. Tentang masalah bagaimana dan dimanfaatkan untuk apa oleh manusia, hal tersebut diserahkan kepada individu atau kolektif manusia itu sendiri.

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?”
(Faathir (35) : 3)

Terkait dengan isu keamanan berupa penggunaan nuklir untuk senjata, maka PBB, melalui IAEA (International Atomic Energy Agency) telah mengaturnya dalam NPT (Non-Proliferation Tractat) yang mengatur penggunaan nuklir untuk tujuan damai. Dan Indonesia merupakan satu dari tiga negara pertama–dua lainnya yaitu Norwegia dan Australia—yang menandatangani CSA (Comprehensive Safeguard Agreement). Selain itu, terdapat hal teknis yang tak bisa ditolerir terkait dengan pembuatan senjata nuklir. Uranium dan Plutonium yang dapat digunakan sebagai bahan senjata nuklir haruslah memiliki tingkat pengayaan (pen.: enrichment – pemurnian) di atas 80%. Sedangkan sebuah reaktor nuklir komersial sudah dapat beroperasi dengan uranium yang di-enrich sebesar 5%, dan batas maksimal pengayaan untuk reaktor komersial yang ditetapkan IAEA adalah sebesar 20%.

Hal lain yang terkait dengan nuklir selanjutnya adalah isu keselamatan. Adalah suatu keharusan bagi IAEA untuk menjaga penggunaan energi nuklir di seluruh dunia agar tetap aman dan sesuai dengan tujuan damai. Karenanya, terdapat banyak prasyarat yang ditentukan sebelum dibangunnya sebuah reaktor nuklir. Sebagai contoh kecil seperti keadaan geologi, sejarah bencana (gempa, tsunami, dll) selama beberapa ratus tahun ke belakang, kesiapan SDM, dsb. Standar bangunan sebuah reaktor nuklir bahkan jauh di atas standar bangunan untuk militer. Dan setelah berdiri pun, pihak IAEA akan terus memantau secara berkala reaktor tersebut.

Mengenai bahaya kecelakaan nuklir, hal tersebut telah diantisipasi sejak pembuatan desain reaktor itu sendiri. Sebuah PLTN memiliki desain pengamanan dan antisipasi kecelakaan yang berlapis-lapis. Desain keselamatan suatu PLTN meliputi: Lapisan keselamatan pertama; PLTN dirancang, dibangun, dan dioperasikan sesuai dengan ketentuan yang sangat ketat, mutu yang tinggi dan teknologi mutakhir. Lapis keselamatan kedua; PLTN dilengkapi dengan system pengamanan/keselamatan yang digunakan untuk mencegah dan mengatasi akibat-akibat dari kecelakaan yang mungkin dapat terjadi selama umur PLTN. Dan lapis keselamatan ketiga; PLTN dilengkapi dengan system pengamanan tambahan, yang dapat diperkirakan dapat terjadi pada suatu PLTN.

Mayoritas reaktor nuklir di dunia saat ini tergolong ke dalam reaktor nuklir generasi II yang telah terbukti beroperasi dengan aman dan selamat (cat.: Reaktor di Chernobyl adalah reaktor jenis RBMK-1000 yang tergolong dalam reaktor generasi I). Dan ke depan, reaktor nuklir yang digunakan dalam PLTN adalah generasi III dan III+ yang lebih ekonomis dan lebih terjaga dari kemungkinan kecelakaan akibat kesalahan orang atau bencana alam.

Mengenai limbah, pengolahan limbah nuklir telah menjadi perhatian yang serius dari para ahli nuklir sejak dulu. Tidak ada kontaminasi limbah radioaktif kepada alam sekitar, baik air, tanah maupun udara. Air (laut/sungai) yang digunakan sebagai medium pendingin untuk beberapa jenis reactor, tidak membawa serta zat-zat radioaktif dalam siklus pendinginannya. Gas yang dikeluarkan oleh sebuah PLTN sangat kecil (sekitar 2 milicurie/tahun) sehingga tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan.

Pada PLTN, sebagian besar limbah yang dihasilkan adalah limbah aktivitas rendah (70 – 80 %). Sedangkan limbah aktivitas tinggi dihasilkan dari hasil daur ulang limbah. Penanganan limbah radioaktif pada umumnya meliputi tiga hal: 1.) Memperkecil volumenya dengan cara evaporasi, insenerasi, kompaksi (ditekan). 2.) Mengolah menjadi bentuk stabil (baik fisik maupun kimia) untuk memudahkan dalam transportasi dan penyimpanan. 3.) Menyimpan limbah yang telah diolah di tempat yang diisolasi.

Kesiapan SDM

Pada persiapan pembangunan PLTN, BATAN telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di luar negeri, terutama dengan negara-negara yang maju dalam pembangunan PLTN, seperti Amerika Serikat (Westinghouse, General Electric, US-DOE), Canada (AECL, Nordion and AECB), Korea Selatan (KAERI, KHNP), jepang (JAERI, JAEA, MHI), Perancis (CEA, AREVA) dan Rusia (ROSATOM). Bentuk-bentuk kerjasama tersebut antara lain joint study, familiarization with the design of NPP, training, on the job training, managerial and technical issues dan exchange of information.

Selain itu, tiga buah reactor skala penelitian yang telah dibangun di Indonesia (salah satu yang tertua dibangun tahun 1965) telah memberikan kontribusi yang yang tidak sedikit bagi masyarakat melalui bidang kedokteran, pertanian, peternakan, industry, dll. Dan selama ini, belum pernah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa atau sangat parah pada fasilitas reactor penelitian tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa SDM yang ada dan akan terus bertambah ini merupakan SDM yang handal dan teruji.

Penutup

Di belahan dunia manapun, keputusan membangun instalasi nuklir untuk tujuan memenuhi kebutuhan energi pada akhirnya akan berada pada skup sosial-politik. Betapapun siapnya teknologi yang dimiliki suatu negara. Tak terkecuali dengan Indonesia. Sejarah telah membuktikan, betapa negara barat maupun timur terus mencoba untuk menjatuhkan Soekarno oleh sebab selain semakin ‘tak bisa dikendalikan oleh blok manapun’, di bawah kepemimpinan beliau Indonesia mulai memiliki potensi teknologi nuklir yang membahayakan. Pada akhirnya, Soekarno dijatuhkan di bawah konspirasi barat. Dan potensi nuklir Indonesia perlahan surut di bawah kepemimpinan penggantinya.

Teknologi nuklir adalah teknologi yang paling canggih dan maju saat ini. Siapa yang memiliki teknologi ini, maka ia bisa disejajarkan dengan negara-negara maju. Selain itu, kebutuhan akan energi yang murah, efisien dan ramah lingkungan sangat dibutuhkan Indonesia saat ini dan ke depannya pada khususnya. Adalah sebuah langkah yang ‘berani’–dan ‘nekad’–, sebuah negara sebesar Indonesia menggantungkan lebih dari 50% sumber energinya dari minyak bumi yang sangat fluktuatif harganya di pasar dunia. Karenanya jika memang memiliki itikad baik, pemerintah haruslah berani mengambil langkah yang tegas untuk menyelamatkan sumber energi Indonesia. Selain persiapan di bidang teknologi, pencerdasan masyarakat khususnya terkait dengan nuklir untuk penggunaan damai dan solusi energi Indonesia adalah sebuah PR besar yang tak bisa diabaikan. Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perizinan Reaktor Nuklir No. 43/2006 setidaknya telah sedikit membuktikan keseriusan Pemerintah. Namun, keberjalanannya tetaplah perlu dipantau dan dikawal. Agar tak ada lagi kekhawatiran akan kebutuhan energi bagi anak-cucu kita.

Wallahu a’lam.

_________________
Referensi

1.)Aziz, Ferhat. Solusi Bijak Krisis Listrik. Majalah Gatra. 2008.
2.)Dahlan,Nizar. Prospek Tenaga Nuklir untuk Kelistrikan. http://www.himni.or.id. 2008.
3.)Hidayat, Adjar Irawan S. Telaah – 43 Tahun Nuklir Indonesia. http://www.antara.co.id. 2007
4.)Muchlis, Moch. dan Adhi Darma Permana. Proyeksi Kebutuhan Listrik PLN Tahun 2003 s.d. 2020. Publikasi Ilmiah BPPT. 2004.
5.)NN. Ahli Nuklir Indonesia Berpengalaman 30 Tahun Lebih Operasikan Reaktor Nuklir. http://www.esdm.go.id. 2008
6.)Pusat Diseminasi Iptek Nuklir. Pengenalan PLTN. http://www.infonuklir.com. 2008
7.)Wauran, Markus. Reaktor Nuklir di Indonesia. http://www.himni.or.id. 2008
8.)http://en.wikipedia.org,

oleh mif

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: