BAJA, SOLUSI TERPENDAM


MENINGKATNYA kesadaran untuk melestarikan lingkungan telah melahirkan begitu banyak konsep yang memaksakan pengembangan teknologi ke arah yang bersifat daur ulang (recycling) atau yang bisa terbarukan (renewable).

Tidak terkecuali teknologi pemurnian dan peleburan logam, seperti besi dan baja. Seperti dijelaskan peneliti Bidang Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Nurul Taufiqu Rochman, MEng melalui perbincangan dengan Pembaruan, industri baja akan mengalami perubahan besar menjelang diberlakukannya kebijakan negara-negara Uni Eropa yang menolak masuknya kendaraan impor dari negara-negara yang tidak menerapkan sistem daur ulang metal di seluruh bagian produksi industri otomotifnya.

Ketentuan ini tentu merupakan ancaman bagi negara-negara produsen otomotif seperti Amerika, Jepang, dan Cina, karena lebih dari 85 persen bahan pembentuk kendaraan merupakan bahan metal. Dan, 30 persen dari metal itu adalah baja.

Kondisi itu juga akan berimplikasi buruk pada industri baja Indonesia yang masih berstatus importir pellet dan scrap. Pellet yang merupakan bahan baku pembuatan bijih besi dan scrap merupakan bijih besi hasil daur ulang dari metal bekas, baik besi maupun baja.

Kebijakan yang ada telah memicu meningkatnya permintaan scrap yang tidak seimbang dengan kapasitas produksi negara-negara produsen, seperti Brasil, Kanada, dan Australia. Industri negara Cina saja sudah menyedot lebih dari sepertiga total produksi bijih besi dunia yang mendekati angka satu miliar ton per tahun. Indonesia sendiri diperkirakan membutuhkan sekitar lima juta ton per tahun bahan baku baja.

Sebagai salah satu konsumen bijih besi yang tengah mengembangkan kemampuan teknologinya, daya saing Indonesia untuk memperebutkan bahan dasar baja di pasaran dunia tentu belumlah seimbang dibanding negara-negara konsumen lain, seperti Jepang, Cina, dan Amerika.

Kondisi Indonesia

Industri berbasis baja di Indonesia sendiri sudah banyak yang terpuruk, bahkan ada yang sampai gulung tikar. Misalnya, para pengrajin di sekitar Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah, yang terpaksa gulung tikar setelah persediaan bahan baku besi atau baja mereka menipis dan harganya semakin mahal.

Sebetulnya, masih ada faktor lain yang menyebabkan industri kecil itu terpuruk, seperti meningkatnya harga bahan bakar minyak dan briket batu bara untuk mencairkan logam. Semua itu terakumulasi dalam perhitungan biaya produksi yang tidak menguntungkan terhadap hasil penjualan.

Hal itu tentu akan berbeda jika harga bahan baku, seperti bijih besi, pellet, dan scrap dapat ditekan semurah mungkin.

Berdasarkan hasil studinya terhadap pemanfaatan kandungan alam di bumi Indonesia, Nurul menyimpulkan kekayaan alam bahan baku baja hingga saat ini masih terpendam dan tidak dimanfaatkan karena belum dikembangkan teknologi pemurnian bagi bahan baku alam di tanah air.

Bahan Lokal

Jika dilihat kekayaan alam Indonesia, di sepanjang pantai Pulau Jawa saja diperkirakan terdapat sekitar 170 ton kandungan pasir besi yang merupakan bahan dasar pembuatan bijih besi. Masalahnya, pasir besi itu mengandung unsur Titanium (Ti) dan Vanadium (V) yang dapat menurunkan kualitas bijih besi yang dihasilkan. Selain itu, unsur Ti dapat mengganggu proses produksi karena akan menempel dan semakin menumpuk pada tungku pemanasan.

Begitu pula dengan laterit yang berbentuk bongkahan padat dan memiliki kandungan besi (Fe) lebih dari 50 persen. Pulau Jawa diperkirakan memiliki satu miliar ton benda bahan yang juga merupakan bahan baku bijih besi ini. Sayangnya, laterit juga memiliki pengotor dari unsur Nikel (Ni) dan Kobalt (Co).

Unsur Ni dan Co serta Kromium (Cr) sebenarnya dibutuhkan untuk meningkatkan kekuatan baja. Tetapi, pada jumlah tertentu, ketiga unsur itu mempersulit pembuatan baja berbentuk lempengan.

Alternatif Teknologi

Untuk menjawab tuntutan itu, tentu pemanfaatan teknologi pemurnian logam dapat dijadikan pilihan. Terlebih harga bahan dasar bijih besi yang kian meningkat dan tuntutan pemenuhan kebutuhan sebanyak lima juta ton scrap dalam negeri yang diperkirakan seharga Rp 30 miliar.

Setelah menyelesaikan program doktor di Universitas Kagoshima, Jepang, Nurul mencoba mengembangkan teknologi pemurnian logam yang merupakan kombinasi dari metode bubbling dan compound separation.

Menurut pria kelahiran kota Malang ini, metode bubbling sudah biasa digunakan untuk mengeliminasi unsur-unsur pengotor seperti Ti, V, Ni, Co, dan Cr. Caranya dengan menambahkan larutan unsur yang mampu mengikat pengotor dari bahan baku cair di dalam tungku pemanas, seperti Arc Furnaces, yang dipanaskan pada suhu tinggi. Unsur pengikat itu antara lain oksida Silikon (SiO2) dan oksida Kalsium (CaO) serta Plumbum (Pb).

Reaksi antara pengotor dan pengikat harus diperhitungkan secara cermat sehingga senyawa yang dihasilkan memiliki berat jenis yang lebih kecil dari berat jenis cairan besi yang dimurnikan. Dengan demikian, senyawa pengotor dan pengikat akan naik ke atas permukaan, sehingga mudah disingkirkan dari larutan besi yang diinginkan.

Permasalahan seberapa kuat energi Gibb’s pada masing-masing pengotor mengikat larutan besi juga sudah dapat dihitung dengan sebuah perangkat lunak. Peranti lunak ini juga sudah dapat memperkirakan jenis-jenis senyawa pengotor yang dikandung larutan utama. Dengan demikian, teknologi ini tidak hanya dapat menghasilkan besi atau baja berkualitas tinggi, pemilihan bentuk besi dan baja pun sudah dapat ditentukan pada tahap pemurnian ini. “Seperti proses pengambilan Nikel dan Cobalt dapat diatur saat masih di tungku sesuai dengan kebutuhan, baja seperti apa yang akan dihasilkan,” kata Nurul.

Proses pembentukan baja pun tidak jauh berbeda seperti pada pembuatan besi, karena pada dasarnya baja tersusun dari unsur besi dan Carbon menjadi FeC, serta unsur penguat seperti Mangan (Mn), Nikel, dan Cobalt. Jika baja yang ingin dihasilkan berupa baja lunak, seperti baja antikarat (stainless steel), maka kadar karbon dan unsur tambahan lainnya harus dikurangi.

Pertimbangan kadar unsur tambahan itu selanjutnya akan disesuaikan dengan standar produksi baja dan besi yang diakui dunia internasional, seperti standar yang dimiliki Jepang (Japan International Standard, JIS).

Teknologi pembuatan bijih besi maupun besi dan baja ini sedang diuji coba di Balai Pengembangan Mineral LIPI di Lampung, Sumatera. Hasil percobaan itu sudah dicoba pada campuran 20 persen pasir besi di tungku konverter (converter) dan dikategorikan berhasil.

Selain itu, Nurul juga berharap pemanfaatan metode yang dikembangkannya itu dapat meramaikan kembali industri baja di tanah air serta menggairahkan kembali kegiatan penelitian di bidang metalurgi di berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi.

Tidak berlebihan juga jika pengembangan teknologi baja di dalam negeri ini, nantinya diarahkan untuk mendukung pengembangan mobil nasional meskipun masih berupa embrio.

Penulis : YAHYA T ROMBE
Sumber : Suara Pembaruan (8 Januari 2006)

revisi terakhir : 03/03/06 (00:12 WIB)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Edi Zakaria  On July 5, 2010 at 14:28

    Ternyata ada ya ilmuwan Indonesia yg menggumuli permasalahan masyarakat logam Indonesia.
    Maaf, sy mau titip info. Sy punya buyer pasir besi bonafid dari Korea yg cari suplier bonafid pasir besi. Minat? Hub. ediz2007@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: