Slogan 4 Sehat 5 Sempurna “Menyesatkan”?


Setiap kita tentu pernah mendengar slogan tersebut. Mulai dari anak TK hingga orangtua kita yang telah lanjut usia. Slogan ini telah mendarah daging hampir di seluruh pelosok di Indonesia karena selalu diajarkan di setiap sekolah.

Slogan ini muncul pertama kali pada tahun 1950-an yang diciptakan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, untuk memasyarakatkan perbaikan gizi masyarakat. 4 sehat 5 sempurna merupakan komponen yang mesti dipenuhi dalam kebutuhan pokok pangan manusia, yang terdiri dari makanan pokok, sayur-sayuran, lauk pauk, buah-buahan, dan disempurnakan dengan susu.

Seiring berjalannya waktu, ternyata slogan ini banyak dikaji dan disoroti oleh para pemerhati. Namun yang paling penting slogan ini telah mengubah konsep berpikir masyarakat mengenai gizi, di mana kalau makan mesti ada semua komponen tersebut dan susulah sebagai penyempurna zat gizi. Padahal kandungan susu dapat digantikan oleh empat komponen lainnya.

Belakangan ini muncul istilah baru yaitu “Diet Seimbang” sebagai pengganti slogan “4 Sehat 5 Sempurna”. Bertentangan dengan slogan “4 Sehat 5 Sempurna”, istilah ini justru menimbulkan kebingungan karena tidak memberikan arahan perilaku apapun, tidak menunjukkan bagaimana yang sesuai dengan maksud dari istilah tersebut, masih abstrak. Namun hal ini tidak berarti slogan “4 Sehat 5 Sempurna” lebih baik karena slogan ini juga menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa bila tidak minum susu, maka tidak sehat dan akan kekurangan gizi.

Masyarakat yang tidak mampu membeli susu sering beranggapan bahwa anak mereka kurang gizi. Di satu sisi memang benar kurang gizi karena mereka tidak tahu apa bahan makanan yang bergizi tinggi yang dibutuhkan anak dengan harga terjangkau, seperti tahu dan tempe, sehingga makanan yang diberi ke anak lebih banyak nasi (karbohidrat), namun rendah protein.

Masyarakat yang mampu membeli susu beranggapan telah memberikan gizi yang baik, namun ternyata anaknya kelebihan gizi sehingga menjadi obesitas dalam usia dini.

Zat gizi yang dibutuhkan tubuh dapat digolongkan menjadi karbohidrat, protein, lemak, air, dan mineral. Komposisi dari masing-masing komponen dapat berbeda-beda tergantung usia, aktivitas, dan penyakit. Misalnya anak kecil membutuhkan protein lebih besar karena diperlukan untuk pertumbuhan, orang dewasa yang bekerja berat lebih membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, dan pada penyakit tertentu konsumsi air ada yang mesti sangat dibatasi.

Solusi untuk masalah ini masih menjadi pembahasan para ahli gizi. Di balik permasalahan istilah tersebut, hal yang paling penting adalah pemenuhan kebutuhan tubuh secara benar, pemerataan peningkatan gizi masyarakat, dan yang tidak kalah penting, edukasi gizi yang benar karena masyarakat juga perlu tahu bahwa makanan bergizi tidak harus mahal, tempe yang harganya relatif murah mempunyai kandungan protein yang tinggi, sementara burger yang mahal justru menjadi sumber penyakit.

Kata-kata 5 sempurna juga perlu dihapus untuk menghilangkan persepsi bahwa setiap orang membutuhkan susu. Memang susu itu penting, namun bukan berarti susu menjadi keharusan dalam pemenuhan kebutuhan zat gizi.

http://jendelahidayah.wordpress.com/2010/02/10/slogan-4-sehat-5-sempurna-menyesatkan/

https://mrans.wordpress.com/2010/03/26/slogan-4-sehat-5-sempurna-%E2%80%9Cmenyesatkan%E2%80%9D/

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: